Laman

Senin, 11 Februari 2013

The Story


Oktober 2026, The Lab, Reuni SMA Angkatan Tahun 2010

“Bukannya Aga kerja di Bandung, ya?”

“Trus, loe kerja di Jakarta, kan, Ra?”

“Aga juga, kan, kerja fulltime. Dan loe editor paling sibuk di dunia.”

“Dan yang paling gue heran ya, cuma seminggu dua kali kalian ketemu, kenapa loe bisa hamil, sih?”

Tara dan Aga hanya tersenyum, lalu menyeruput minuman mereka. Teman-teman di sekeliling mereka kembali bertanya-tanya tentang keajaiban kehamilan Tara yang kedua. Kuantitas pertemuan mereka hanya 2 kali seminggu, walaupun sudah 6 tahun mereka menikah. Tapi, yang tidak mereka ketahui adalah kualitas pertemuan mereka.

Tara meminum jus jeruknya, sebelum ia menanggapi pertanyaan-pertanyaan sahabat-sahabat lamanya.

Well, sebenernya ada waktu-waktu tertentu dimana Aga bisa di rumah seminggu full. Libur dia yang terakhir 3 bulan lalu. Dan gue udah jalan 3 bulan. Do the math, folks.”

Rio, yang pertama kali mengerti maksud Tara, menampar lengan Ray di sebelahnya. “Jadi, abis kumpul-kumpul kita waktu itu, loe langsung... gitu... gitu?”

“Gitu gimana?” Aga pura-pura tidak mengerti.

“Ya, gitu! Ah, loe kayak nggak ngerti aja, sih!” Rio ngambek, lalu menyedot Iced Mocca-nya barbar dengan bibir yang dimanyunkan.

“Emang gimana, sih? Gue nggak ngerti,” Dani berbisik pada Bella di sebelahnya, cukup keras untuk didengar semua orang di meja itu, yang membuat semua terbahak.

Bella menyedot Iced Mocca-nya, sama barbarnya dengan Rio, sambil tertawa. Dan hampir membuatnya tersedak. “Yaelah, Dan! 4 tahun loe nikah sama si Ray, masa nggak ngerti, sih??” Dani hanya bengong.
Tara, kasihan melihat temannya yang masih tidak mengerti walau sudah berumahtangga selama 4 tahun lebih, memutuskan untuk menceritakan keajaiban kehamilannya.

“Gue ceritain, deh. Singkat aja tapi, ya,”

Semua kepala mengangguk. Dan Aga hanya tersenyum. Here comes the story.

# # #

Akhir Juli 2026, Kediaman Keluarga Magandhi Janaka

Sedikit dingin malam itu. Hujan turun agak deras. Kabut setengah menutupi area kompleks. Angin berhembus cukup kencang. Bisa dikatakan sedikit dingin, kan, malam itu?

Terlihat sesosok wanita sedang membenahi tempat tidur anaknya agar nyaman untuk tidur. Ia duduk sebentar dan membuka sebuah buku cerita untuk mendongeng anaknya sebelum tidur. Cerita untuk hari itu, Beauty and The Beast.

Namun, baru sampai ia di tengah-tengah cerita, dilihatnya anaknya sudah pulas. Terlalu capek ia ternyata. Ia meraih selimut bergambar Belle The Beauty, dan hati-hati menyelimutinya. Ia kecup kening anak perempuannya itu, lalu keluar dari kamar anaknya, setelah sebelumnya ia matikan lampu kamarnya.

Saat itulah terdengar dering ponselnya. Segera ia mengangkat, dan dengan segera pula sebuah senyum mengembang di bibirnya, setelah ia mendengar suara suaminya di seberang.

“Halo?”

Halo? Belum tidur, Chan?” Chan. Hanya Aga yang senang memanggilnya dengan suku kata pertama nama depannya.

“Belum. Mas Aga belum tidur juga?” Mas Aga. Kebiasaan itu timbul di awal pernikahan mereka. Dan Aga pun tidak terlalu ambil pusing dengan panggilan itu, walau mereka seumuran. Berasa suami, katanya.

Belum.

“Lagi ngapain emang?”

Kerjalah. Ngapain lagi coba?

Masih kerja juga? “Bukannya Mas Aga dapat jatah libur ya, minggu ini?”

Diundur. Ada deadline baru. Nggak tahu juga. Kenapa?

“Ziva. Kangen katanya,”

Ziva? Atau jangan-jangan kamu?” Ketahuan. Sial.

“Tau aja, sih,”

Tau, dong.

Jeda. Hanya untuk beberapa saat, sampai Tara berbicara lagi.

“Kapan libur?”

Minggu depan.

“Bisa dateng ke rumah, kan?”

Bisalah. Bayarin tiketnya tapi,

Tiket? Apa pula ini?

“Lah, kan cuma Bandung-Jakarta. Ada mobil juga, kan?”

Aku lagi di Pyeongyang.

“Ngapain di Pyeongyang?” Smells fishy. Mau main-main kayaknya.

Disandera.” Tuh, kan.

“Buset! Trus ini telponnya pake handphone siapa?”

Nggak tau. Aku nemu. Ternyata punya Siwon.

“Tau darimana itu punya Siwon?”

Ada kopian Yaasin, sama E-Quran juga. Siwon kan, religius. Berarti punya dia, kan?

“ Kesurupan SM Salah Gaul, ya, kamu?”

Tau aja, sih, istrinya Magandhi,”

“Idih, sori ya!”

Call Ended. Tunggu saja. 1 menit. Pasti akan ada pesan masuk dari Aga.

Tringg~

Tuh, kan.

“... Magandhi, kan, tampan..? Apa lagi sih, bapak satu ini? Nggak jelas banget,”

Tara memutuskan untuk meneleponnya lagi. Baru terdengar dering pertama, telepon langsung diangkat.

Nggak ngambek, kan?

“Nggaklah. Lagi di kafe Rio, kan?” Buka sajalah kartu trufnya sekarang. Sedari tadi Tara memang sudah sadar kalau suaminya itu tidak sendiri. Terdengar suara kikik khas Rio saat Aga mengerjainya dengan taktik “disandera di Pyeongyang”.

Iya. Segitu jelasnya, ya?

“Ketawanya si Rio tuh, jelas banget tau. Buruan pulang, deh. Udah malem banget ini,”

Ha! Emang dasar si Rio. Iya, deh, aku pulang. Ziva udah tidur dari tadi, kan, ya?

“Iya. Kenapa emang?”

Nggak. Baguslah. 15 menit lagi aku pulang, Chan. Tunggu, ya?

“Ati-ati di jalan, Mas.”

15 menit. Cukuplah untuk beres-beres mainan Ziva yang masih berantakan tadi.

Namun, belum sampai 15 menit terdengar deru mobil Aga memasuki garasi. Tara memasukkan mainan terakhir ke dalam boks mainan, lalu menuju pintu depan. Saat ia membukanya, Aga langsung menerjang masuk, dan tiba-tiba memeluk pinggangnya, lalu menciumnya. Bukan sejenis ciuman “aku cinta kamu”, tapi lebih pada ciuman “aku cinta kamu, dan aku kangen banget sama kamu karena selama ini aku cuma bisa ketemu kamu dua kali seminggu”.

“Aku nggak suka nunggu tiap tiga bulan sekali buat ketemu kalian berdua. Dan aku juga nggak suka nunggu yang satu ini. Jadi, mendingan kita puas-puasin aja. Mumpung Ziva udah tidur juga, kan?” Aga mengerling pada Tara. Tara hanya memutar bola matanya. Ridiculous.

“Oh, come on, sweetheart. I know you want it, too,”

Tara menatap mata suaminya itu. Sedetik. Dua detik. Tiga detik.

Dan akhirnya, “Okay, fine.” Ia berbalik sebentar untuk mengunci pintu. Lalu menarik suaminya. Kepada keinginan tak terelakkan mereka.

# # #

Present time, Oktober 2026, The Lab, Reuni SMA Angkatan Tahun 2012

“... And you know what happened next.” Tara mengakhiri ceritanya. Cukup untuk membuat audience bengong. Cukup untuk membuat Dani mengangguk mengerti. Dan cukup untuk membuat Aga tersenyum bangga.

“Waktu itu loe libur, Ga?” Rio yang pertama kali buka suara. Aga hanya mengangguk membenarkan.

Lalu giliran Bella berkomentar. “Sinting loe berdua,”

Lalu Billa. “Berarti Ziva juga?” Tara dan Aga mengangguk bersamaan.

Dan Ray. “Bener-bener kayak yang di Reply 1997. Siapa tuh, karakter utamanya?”

“Yoon Yoon Jae sama Sung Shi Won?” Alvin menimpali.

“Iya, tuh, iya. Untung waktu loe punya Ziva, loe udah kawin, Ga,” komentar Ray. Ia lalu memukul lengan atas Aga pelan.

“Lho, emang si Yoon Jae sama Shi Won belum nikah ya, waktu punya anak pertama mereka?” Bella menggeleng menanggapi pertanyaan Billa. Si maniak K-Drama ini langsung membenarkan.

“Seinget gue, mereka belum nikah. Karena itu, Yoon Jae sama Shi Won nikah duluan. Ganggu rencana pernikahan kakaknya si Yoon Jae, yang bikin emak bapaknya Shi Won marah-marah sama si Yoon Jae sama Shi Won.”

Rio menggeleng-gelengkan kepalanya, mendecak sok kecewa. “Emang dasar maniak korea loe, Bel,”

“Trus, kenapa loe mau nikah sama gue?”

“Yah, itu kan, karena gue cinta sama loe, bukan karena loe maniak korea,”

Wajah Bella otomatis memerah mendengar komentar Rio, membuat seluruh penduduk meja itu bersorak. Mengejek pasangan paling absurd sedunia itu. Rio dan Bella bergantian membalas ejekan kawan-kawan mereka itu.

Di tengah-tengah keributan itu, mereka akhirnya diselamatkan oleh pertanyaan Dani yang membuat mereka sadar tentang topik utama reuni kali ini.

“Eh, eh, ngomong-ngomong due-nya kapan, Ra?”

“Sekitar April tahun depan. Kenapa?” Tara mantap menjawab.

“Mau loe namain siapa?”

Tara berpikir sebentar. Lalu memandang Aga dengan senyum penuh arti.

“Kalo cowok, Jethro untuk nama tengahnya. Kalo cewek, Myka.”

Semuanya menghela nafas kecewa. “Lagi?” protes mereka bersamaan.

“Iya, dong.” Tara mengangguk lebih mantap lagi. Soal nama mereka memang sudah sepakat sejak lama.
Dan karena ini, meja itu kembali rusuh. Protes akan nama yang telah dipersiapkan Tara dan Aga menuai kontroversi. Lagi dan lagi, topik demi topik diangkat, tapi terus saja terdengar protes.

Reuni kali ini memang yang teramai.

And this is the end of The Story. Stay alive and bye bye!

# # #

P.S : Done! See ya soon, folks!

Regards,
Umi Sa'adah =]

Senja Dalam Kelabu


“Udahlah, Ra! Nggak usah minta maaf!” Billa menampik tangan Tara yang dijulurkan padanya. Mencoba memohon maaf. Tapi Billa tidak menghiraukannya, bahkan membentaknya berulang kali. Meminta Tara untuk segera pergi dari rumahnya. Billa sangat kesal.

“Gue pengen banget ngejelasin ke loe, tapi Alvin selalu bilang jangan.. Please, Bil, biarin gue jelasin,” Tara memohon, sungguh memohon. Setitik air mata siap meninggalkan pelupuk mata Tara. Dan Billa melihat kerling air mata itu. Ia memandang mata Tara lekat-lekat sesaat.

Lalu memutuskan.

# # #

Sial. Sial. Sial!

Apa salahnya hingga pacarnya sampai mengkhianatinya? Dan lebih parahnya lagi, dengan Tara! Tara! Sahabatnya sendiri! Sialan! Alvin sialan!!

Billa menghentak-hentakkan kakinya sepanjang perjalanan pulang. Nafasnya memburu. Wajahnya terlihat mulai memerah. Ia kesal. Sangat kesal, dan kecewa.

Sesampainya ia di rumah, ponselnya berdering. Dengan dering khas yang memang ia pilih untuknya. Sesuai dengan sifatnya yang jahil dan suka main-main. Da Lime and Da Coconut.

“~She put the lime in the coconut, and  drank them

Billa langsung mengangkatnya. Ia siap marah. Ia siap memaki. Ia siap untuk menjadi sosok Billa yang lain. Bila perlu, ia akan mengumpat sekalian. Alvin sialan!!

Bil, kamu di—

“Nggak usah nanya-nanya!! Nggak usah sok peduli!! Kalo emang aku udah nggak ada gunanya, bilang! Nggak usah pake khianatin segala! Kenapa harus Tara?!! Kenapa!!?”

Bip. Call Ended.

Tenang. Tenang. Tenang.

Sekarang hanya tersisa penjelasan dari Tara, yang tidak akan ia dengarkan sepatah kata pun. Dia memang sahabatnya. Tapi jangan harap Billa akan memanggilnya ‘sahabat’ lagi setelah pengkhianatan hari ini. Wow. Betrayer of the Day. Siapa lagi besok?

Billa memang masih marah. Namun, ia putuskan untuk menghilangkan saja memori menyeramkan di toko perhiasan. Saatnya berendam. Saatnya meredam amarah, dan biar semuanya ikut luruh bersama penatnya hari itu.

# # #

 “Udah sejuta kali gue coba telpon dia, Alvin... Tapi nggak satupun diangkat. Di-reject-lah, dikirimin reject message-lah, bahkan dibiarin gitu aja... Bingung gue, Vin!!” Tara misuh-misuh di kamar Alvin, tiga hari setelah kejadian di toko perhiasan. Alvin hanya bisa menunduk kecewa mendengar keluhan Tara. Kesal, kecewa, marah. Tapi yang paling dominan, bingung. Dan kecewa. Kenapa bisa seperti ini? Dan kenapa harus kejadian saat ia bersama sepupunya sendiri? Bersama Tara? Ya. Tara memang saudara dekat Alvin. Dan karena inilah ia makin bingung. Billa ternyata tidak tahu Tara adalah sepupuAlvin. Makin runyamlah masalahnya.

Alvin mendongak. Dilihatnya Tara yang duduk termenung di dekat jendelanya. Bulir-bulir air mata ikut menemani.

Sial. Ia makin kecewa. Dengan dirinya sendiri.

“Oke, aku bakal usahain buat ngejelasin semua ke Billa. Aku nggak tahu gimana dan apakah dia mau nerima, yang penting aku harus jelasin ke dia.” Alvin, akhirnya menemukan suaranya, memberikan keputusan terakhir. Tara menoleh. Ia pandangi Alvin sesaat, seolah cowok itu sudah gila.

“Loe itu permasalahannya, Vin. Billa nggak bakal terima.” komentar Tara pasrah. Tapi Alvin menggeleng. Bersikeras ingin menjelaskan semuanya, cerita versi dirinya sendiri, pada Billa.

“Terserahlah. Jangan salahin gue kalo loe diputusin Billa.” kata Tara acuh. Ia lalu memandang ke luar. Dilihatnya langit berubah kelabu. Pekat. Sangat pekat. Sepekat pikirannya sekarang. Sampai-sampai hampir mampet kalau saja Alvin tidak menyadarkannya.

“Billa ada jadwal apa Kamis besok?”

“Biasanya dia beli hadiah buat anak-anak yang ikut bimbel dia. Kenapa?”

“Nggak. Cuma nanya. Telpon Aga, gih. Paksa dia buat nemenin kamu di sini.”

Tara mendongak mendengar usulan Alvin.

“Iya juga, ya. Ya udah, buru sana! Siapin rencana apapun yang loe punya itu!! Gue mau nyantai jablai sama Aga!”

Alvin terkekeh mendengar kata-kata Tara. Tipe sepupu desperate yang butuh cinta sang pacar. Ia lalu meninggalkan Tara sendiri bersama phone call-nya dengan Aga, dan pergi mencari ilham. Dan tempat yang pertama kali ia kunjungi, adalah...

Starbuck’s. Satu cup Americano akan cukup untuk membantunya berpikir lebih jernih.

Ia mencari tempat duduk yang sekiranya bisa membuatnya tenang. Dan pilihannya jatuh pada satu meja yang terletak di tengah ruangan, dengan akses yang luas untuk melihat hujan lebat di luar sana.

Lalu, ia berpikir lagi.

# # #

Billa merogoh tasnya, kesal karena kunci rumahnya terselip entah di mana. Kalau ia tidak cepat-cepat menemukannya, ia harus kembali lagi ke toko hadiah itu dan bertanya dengan memalukan.

Sial. Tidak ketemu.

"Kemana sih, kuncinya? Perasaan tadi udah dimasukin deh..." gumamnya kesal. Lalu, entah darimana, sebuah tangan disodorkan padanya. Ada kunci rumah yang terlihat familiar di tangannya. Dan kenapa pemilik tangan itu harus Alvin?

Billa memandangi lelaki itu sejenak. Kekecewaan dan kemarahan tersirat jelas di matanya.

Sedetik. Dua detik.

Billa menyambar kunci itu, dan langsung menyetop taksi apapun yang lewat saat itu. Billa memang cepat. Tapi entah mengapa Alvin lebih cepat. Ia segera meminta supir taksi untuk menunggu calon penumpangnya itu. Ini kesempatannya. Ia harus berbicara padanya.

"Bil, semuanya nggak yang kayak kamu pikirin. Tara itu bukan siapa-siapaku. Well, dia memang siapa-siapaku, tapi nggak yang kamu kira. Dia cuma sepupu, Bil. Tolong, percaya sama aku,"

Billa hanya memandaninya. Tengah sibuk mencari kebenaran pada dua benik coklat bening itu. Alvin memang terlihat jujur, tapi ia masih tidak percaya. Persetan dengan itu.

"Terus, kamu pengen aku gimana? Maafin kamu? Nggak segampang itu,"

Bersamaan dengan deklarasi ketidaksetujuan Billa, supir taksi yang masih berhenti mengklakson tak sabar. Billa langsung sadar akan taksi yang menunggunya. Kalau memang mau pakai jasanya, lebih baik ia buru-buru.
Sebelum ia menutup pintu taksi, ia mendengar Alvin berbicara.

"Kamis. Sore. Kapanpun kamu selesai belanja hadiah buat anak-anak bimbel kamu. Tepat di bawah langit kelabu yang terbakar. Di sini. Kutunggu."

Entah ia akan melakukannya, namun satu yang pasti.

Hatinya perih. Dan ia merasa sangat bersalah.

# # #

“Udahlah, Ra! Nggak usah minta maaf!” Billa menampik tangan Tara yang dijulurkan padanya. Mencoba memohon maaf. Tapi Billa tidak menghiraukannya, bahkan membentaknya berulang kali. Meminta Tara untuk segera pergi dari rumahnya. Billa sangat kesal.

“Gue pengen banget ngejelasin ke loe, tapi Alvin selalu bilang jangan.. Please, Bil, biarin gue jelasin,” Tara memohon, sungguh memohon. Setitik air mata siap meninggalkan pelupuk mata Tara. Dan Billa melihat kerling air mata itu. Ia memandang mata Tara lekat-lekat sesaat.

Lalu memutuskan.

"Aku... minta maaf, Ra."

"Aku juga minta maaf, Bil. Alvin juga sih. Dia nggak mau kamu tahu soal statusku. Dia cuma pengen punya hubungan tanpa koar-koar soal saudaranya, atau siapapun. Maaf banget ya, Bil,"

"Aku juga minta maaf. Udah salah paham sama kamu."

"Hehe... Udah ah, kayak lebaran aja, maaf-maafan. Kamu bukannya ada janji sama Alvin?"

"Bukan janji. Aku bahkan nggak pernah bilang "ya". Lagian aku mau beli hadiah buat anak-anak."

Tara hanya memandangnya penuh arti. Gusti, ia memang tidak akan pernah bisa berbohong, apalagi di depan Tara.  Billa mengedikkan bahunya, tidak peduli. Ia merogoh tasnya, mencari ponselnya, memandanginya sebentar, lalu memasukkannya lagi.

Ya udah, aku ke toko dulu. Kalo besok aku nggak bawa hadiah, anak-anak bakal cemberut dan nggak mau belajar lagi. Kalaupun nanti aku ketemu Alvin... katanya ragu-ragu, Aku bakal ketemu Alvin, dan dengerin semua yang mau dia omongin ke aku. As simple as that.

Tara mendecak. Not that simple, sweetheart. Youll understand what Im talking about. Later, when you meet him, youll feel that your heart is beating too fast that it will explode sooner or later. Billa menyipitkan matanya mendengar alasan Tara. Penasaran. Tapi karena terdengar tidak masuk akalbaginyaia mengacuhkannya. Ya, ya, mungkin nanti ia akan merasakannya. Entah apapun  itu, yang pasti itu akan membuat hatinya berdebar tidak keruan dan hampir meledak. Mungkin.

Ya, mungkin.
# # #

Billa berjalan agak tergesa. Hari itu benar-benar petang, walaupun hari baru beranjak siang. Seharusnya matahari sedang bersinar dengan jumawanya. Tapi awan mendung sialan menghalangi sinar menawannya yang juga membakar kulit.

Satu yang ia benci. Karena mendung itu mengingatkannya pada lelaki itu.

Setelah membiarkan Tara menjelaskan apa yang terjadi pada keduanya pagi tadi, ia jadi ingin mendengar bagaimana cerita versi Alvin. Lelaki itu benar-benar sialan karena tidak menceritakan yang sebenarnya sejak awal pertemuan mereka. Walaupun seharusnya Billa sudah tahu, menilik Alvin dan Tara memang sangat dekat.

“Duh, kalau nggak buru-buru, bisa-bisa kehujanan dan nggak bisa dipake hadiahnya..” gumamnya pada diri sendiri. Maka, ia pun bergegas. Mencari hadiah yang diinginkan para anak didiknya yang ia asuh setiap Senin dan Rabu, dan Jumat adalah hari hadiah. Dan ia tengah berjuang untuk mengabulkan beberapa permintaan dari anak didiknya.

Setelah hampir 3 jam ia mencari hadiah, ia memutuskan untuk duduk-duduk sebentar di kafe di dalam mall. Dilihatnya dari jendela kafe, hari masih mendung. Tanda-tanda akan turun hujan, tapi ternyata sedari tadi belum turun juga.

Selesai dengan tehnya, ia meninggalkan kafe—yang berarti ia juga meninggalkan mall—menuju toko buku anak-anak yang ia lihat dari jendela kafe tadi.

Satu-dua buah buku cerita akan lebih mewarnai sesi bimbel hari Senin besok.

Ia masuk ke dalam toko buku, sedikit kesusahan karena belanjaannya yang seabrek. Ia juga membeli beberapa kebutuhan sehari-harinya sendiri ternyata. Ia melihat sebuah buku yang terlihat tipis, bersampul putri duyung yang cantik, dan langsung mengambilnya dari rak, membelinya tanpa pikir panjang. Ia juga melihat beberapa buku lain yang terlihat setipe, dan membelinya juga.

Barulah, saat ia selesai dengan belanjanya hari itu dan hendak keluar dari toko, hujan tiba-tiba turun. Deras. Sangat, sangat deras.

Sial. Bagaimana caranya pulang? Pangkalan taksi memang tidak terlalu jauh dari toko buku itu, tapi ia tidak mau mengambil resiko semua belanjaanya—termasuk dirinya, basah.

“Sial. Kenapa baru sekarang, sih? Pulangnya gimana coba?” gumamnya kesal pada dirinya sendiri.

Seakan menjawab kekesalannya, seorang lelaki tiba-tiba menyambar tas belanjaannya begitu saja, dan melarikannya ke sebuah mobil perak yang terpakir di depan toko buku. Well, seharusnya Billa akan marah bila ada orang yang seenaknya seperti itu. Tapi tidak, setelah ia melihat siapa yang dengan berani melakukannya.

Alvianda Buana. Alias Alvin.

Alvin sialan yang nggak pernah cerita tentang keluarganya. Alvin sialan yang begitu saja menyambar belanjaannya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Alvin sialan yang berhasil memenangkan hatinya.

“Mau pulang?” Damn. Suaranya yang berat benar-benar membuat Billa tergoda dan terpesona. Semarah apapun, suara itu selalu berhasil mendinginkan sekaligus melelehkan hatinya.

Billa menyerah. Ia hanya mengangguk lemah.

Alvin  tersenyum melihat gadisnya tak berdaya di depannya.

“Kalo gitu, ayo,” ajak Alvin. Tangannya terulur ke arah Billa, menunggu persetujuan.

Billa menghela napas. Tidak bisa. Dia tidak bisa terpikat begitu saja.

“Kenapa kamu nggak pernah cerita?” Billa menemukan suaranya, at last. Giliran Alvin yang menghela napasnya. Lebih berat dari yang biasa, walau ia telah memantapkan hatinya untuk menjelaskan.

Alvin memandang wajah gadisnya. Menatap dalam-dalam matanya. “Aku nggak tahu Tara udah cerita atau belum, tapi yang pasti aku nggak suka cerita-cerita tentang keluarga besarku. Tara adalah anak adik ibuku. Yang terjauh. Tapi kita justru deket banget, karena dia selalu sendiri. Ayah Bundanya kerja fulltime, Mas Gana kuliah di luar kota, dan Tabi masih terlalu kecil buat diajak curhat. Akhirnya dia minta aku buat jadi teman curhatnya di rumah. Kebetulan karena rumahku satu kompleks dengan rumahnya. Aku selalu nganggap dia sebagai saudara kandungku sendiri yang nggak pernah kudapetin.

“Hari itu, Tara cuma nemenin aku beli hadiah buat Mama untuk ulang tahunnya, minggu depan. Kata Tara kamu sibuk, dan aku nggak berani ngganggu kamu. Kamu tahu, kan, kebiasaanku yang itu?” Billa mengangguk, lebih lemah. Ia masih terpana.

So.. Maafin aku?” Alvin sedikit berharap.

Mendengar cerita versi Alvin benar-benar membuat otaknya seperti rusak. Ia tidak bisa berpikir. Oke, dia sudah salah paham. Oke, di sudah keterlaluan. Oke, dia sudah egois. Dan oke, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Kecuali dirinya. Dalam hatinya.

Billa mengangguk lagi. “Oke, kumaafin. Bukan untuk kejadian toko perhiasan, tapi karena kamu nggak pernah cerita soal keluarga kamu.” Well, melegakan juga ternyata.

“Kita pulang?” Alvin mengulurkan sebelah tangannya pada Billa lagi, yang diterima oleh Billa tanpa berbasa-basi.

“Kita pulang.”

Alvin tersenyum pada Billa. Kali ini lebih tulus dan lebih menawan. Dan berhasil membuat wajah Billa memerah saking terpananya.

Gusti. Alvin memang sialan karena tidak cerita tentang keluarganya. Tapi Alvin jauh lebih sialan karena membuat wajahnya memerah terpana. Hanya karena sebuah senyum sederhananya.

Sore itu memang mendung dan hujan tak terkira. Tapi dalam hati Billa, senja hari itu tak sekelabu perkiraannya.

# # #

P.S. : Oke, ceritanya nggak nyambung karena cuma side stories, tapi yang pasti tokoh-tokohnya nyambung, dan gue jatuh cinta sama Aga!!

Angela & Hodgins


Senin sore, capek dan berkeringat.

“The Lab? Yang punya keluarganya Rio, kan? Ogah!”

Bella langsung terbangun dari kasurnya, setelah mendengar di mana tempat reuni mereka kali ini.

Tara terus memohon-mohon di seberang telepon, “Ayolah, Bel.. Demi kita..”

Oops! Skak mat. Sial, kutuk Bella dalam hati. Kalau kata-kata “demi kita” andalan Tara itu terlontar sudah, Bella tidak bisa menolak.

Sial. Sial. Sial! “Oke. Kapan?"

Tara terdiam sesaat. Berpikir.

“Selasa? Gue yakin loe nggak bakal bisa hari Rabu. Billa juga besok ada acara sama Alvin. Gimana?”

Selasa, ya?

“Oke. Selasa berarti. Agak siangan aja, ya? Jam sepuluhan gitu,”

“Oke! See you besok, Bel!”

Beep. Telepon dimatikan oleh si penelepon sinting. Bella mengernyitkan dahinya heran. Kenapa gue bisa temenan sama orang sinting ini, sih? Heran gue.

Ia melangkah menuju kamar mandi. Membasuh muka. Lalu kembali ke kasurnya, tidur lagi.

# # #

Selasa pagi, pusing dan kembali pusing.

“Kalo gue bilang enggak, ya enggak! Lagian apa pentingnya sih??”

“Heh! Reuni ini tuh, penting banget! Loe kan tahu, Ray baru aja menang pertandingan basket kemaren itu di Amrik sana. Lagian dia juga pulang hari ini.”

“Trus, kenapa harus di kafe gue kalo Ray yang bayarin kali ini?”

“Yah.. loe kan tahu.. Kita nggak punya duit sebanyak itu... Ngerti, kan?”

Rio menghela napasnya malas, sangat mengerti akan maksud kawannya itu.

“Oke, oke. Jam?”

“Sepuluh? Gue jemput, deh,”

“Loe nggak jalan sama Tara?”

“Dia ada acara. Kenapa?”

“Cuma nanya.”

“Bella?”

Rio terdiam. Aga memang benar-benar sahabatnya, yang kadang tahu jauh lebih banyak tentang dirinya. Termasuk yang satu ini.

“Yap. Gue cerita di kafe.”

Rio langsung memutuskan sambungan. Kepalanya sudah terlalu pening memikirkan caranya berbicara dengan gadis itu. Adelia Bellasa.

Aargh!! Memikirkan namanya saja membuatnya kembali merasa bersalah. Kenapa dia harus berburuk sangka padanya hari itu? Kenapa dia mau menjadi boneka Hana, orang yang sama yang membuat hubungannya dengan Bella harus hancur dan membuatnya sangat bersalah. Memang dasar tidak tahu diri lelaki bernama Rio ini.

Ia melangkah menuju kamar mandi. Membasuh muka. Mencoba menghilangkan pening di kepalanya karena gadisnya.

# # #

Selasa, pukul 10.00 WIB, kita bertemu.

“Mario Andhika. Adelia Bellasa—“

Don’t put my name together with his. I hate it.

“Maaf. Kalo emang loe nggak mau berurusan lagi sama dia, kenapa loe masuk ke universitas yang sama?”
Bella menghela napasnya lagi. Entah sudah untuk yang ke berapa kalinya.

“Kan udah gue bilang, universitas itu satu-satunya yang memang cocok sama hobi gue.”

“Dan kebetulan emang cocok sama hobi Rio. Gitu?” Tara dan Billa membombardir dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Rio yang selama 2,5 tahun ini ia coba hindari. Dan selama 2,5 tahun itu pula ia tidak pernah berhasil menghindar satu inci pun.

“Terserah. Gue ke kamar mandi dulu.”

Kafe ini bisa dibilang unik. Dibagi menjadi tiga ruangan, boys zone, girls zone dan free zone. Untuk cowok, cewek dan untuk para pasangan yang nggak mau dipisah. Selain untuk menarik perhatian, pembagian seperti ini ditujukan agar yang cowok tidak terganggu dengan gosip-gosip khas cewek dan yang cewek tidak terganggu ocehan nggak keruan khas cowok.

Namun, untuk kamar mandi hanya dibagi masing-masing 6 tiap gender dalam satu ruangan. Jujur, Bella sangat menyukai suasana yang ditimbulkan dari pembagian ruangan kafe ini. Tapi, kafe ini milik keluarga Rio, yang... tahu kan? Bella sangat anti Rio akhir-akhir ini.

Ia membasuh tangannya pelan-pelan, sedikit berniat membuat tagihan air kafe ini melonjak. Ia menatap wajahnya sendiri yang terlihat sangat lelah di cermin di depannya sambil menepis-nepis air di tangannya. Mencoba menghabiskan waktu mengeringkan tangan dengan cara manual walaupun persis di sebelahnya sebuah hand-dryer yang masih waras menempel dengan gagah.

Mario.

Nama itu selalu terasa segar di ingatannya, walau hampir 5 tahun mereka tidak pernah bahkan saling menyapa. Tapi tetap saja. Nama itu selalu menempel di pikirannya dan seakan seperti benalu, tidak pernah bisa dihilangkan. Tapi.. bukan berarti tidak mungkin, kan?

Pikiran itu membuatnya tersenyum. Namun, tiba-tiba senyum itu menghilang saat ia menyadari ia tidak sendirian di kamar mandi itu.

Seseorang sengaja mengunci pintu kamar mandi. Agaknya orang itu berhasil mengunci pintu pertama dan baru saja mengunci pintu kedua, saat Bella berbalik, terkejut, menyadari siapa orang itu.

Sial. Mario Andhika, alias Rio. Kedudukannya sebagai manajer boys zone, menjadikannya memiliki banyak keuntungan. Salah satunya kunci ruangan. Sial.

Sebenarnya, Bella memiliki kesempatan untuk lari saat itu juga, menilik pintu zona cewek masih terbuka. Namun, ia hanya berdiri di tempatnya, seperti membeku.

Rio menutup pintunya, hanya menutupnya. Lalu menaruh kunci yang dibawanya di wastafel di samping Bella. Bella tak bergeming. Sama sekali. Ia hanya menatap Rio. Tatapan matanya penuh kebencian, keinginan untuk membalas dendam. Tapi juga sarat akan kekecewaan, kerinduan, dan juga... kasih sayang.

“Aku... minta maaf, Bel,” Rio memulai. Bella masih tidak bergeming. Namun kini, matanya berkilat. Sebulir air mata menggantung pasrah di sudut matanya. Melihatnya, Rio terdiam, tidak berani bicara lagi. Mereka berdua seakan berbicara sekaligus memaki dalam diam.

Lalu akhirnya kebekuan terpecah, saat Bella meraih berendelan kunci di sampingnya dan melemparnya pada Rio. Pria itu refleks menangkapnya, dan saat ia menatap kembali pada Bella, mendadak ia terhenyak.

Meski hanya sekilas, ia yakin ia melihat Bella menangis, sebelum gadis itu berputar, tergesa menuju pintu kamar mandi. Sesaat sebelum Bella keluar, ia akhirnya bersuara.

“Jangan lupa unlock pintunya... Dan jangan minta maaf. Nggak semuanya salah kamu.”

Makin terhenyaklah Rio. Pandangan matanya kabur karena air mata, saat ia memandang Bella, gadisnya—yang dulu gadisnya—melangkah pergi. Untuk kedua kalinya.

Ia meremas kunci di tanganya. “Sialan!” geramnya kecewa pada dirinya sendiri. Rasa bersalah itu benar-benar telah membuatnya amburadul.

# # #
Rabu sore, kita main basket bersama lagi.

Dug. Dug. Dug.

Dribble. And dribble. And another dribble. Ia terus menggiring bolanya. Menembaknya tepat ke arah ring, tapi tak pernah ada satupun yang berhasil masuk. Permainannya kacau. Pikirannya kacau.

Sudah 2 jam lebih ia seperti ini. Dan bahkan ia sendiri tidak tahu ada apa dengan dirinya. Sejak pagi, ia mencoba melupakan kejadian kamar mandi kemarin. Tapi semua yang ia lakukan hanya memperkuat memorinya akan—well, Rio.

Bones, serial favoritnya yang akan ia tonton pagi tadi, juga merupakan favorit Rio. Saat akan ngemil Chitato-nya, ia teringat pesan Rio agar tidak banyak memakan junkfood untuk menjaga tubuhnya tetap fit dan tidak kendor. Bisep, trisep, otot paha, dan abs-nya memang menakjubkan, kata Rio. Saat menemukan DVD ”Reply 1997” di rak DVD-nya, ia hanya menatapnya. Mengingat saat Seo In Guk yang shirtless mencium Jung Eun Ji di salah satu adegan di drama itu. Bukan apa-apa, tapi Rio memang pernah menciumnya setelah kelas Rio selesai olahraga. Shirtless. Coincidence? Yeah, right.

Akhirnya ia memilih bersepeda mengelilingi kompleks rumahnya, meninggalkan memori-memori itu jauh di belakang. Walaupun akhirnya ia capek, dan berakhir bermain basket asal-asalan di lapangan basket di kompleksnya. Ya, ya. Tempat itu juga menyimpan banyak memori tentang mereka berdua.

Saat itu juga, bola memantul keras pada ring, yang membuatnya kembali pada realita. Bola itu melambung jauh ke arah berlawanan, yang membuatnya harus berbalik untuk melihat ke mana bola itu terus melambung dan akhirnya akan terjatuh. Namun, saat bola itu mendarat di tangan seorang pria, bukannya plester semen lapangan, air mukanya mengeras.

Rio.

Rio melangkah mendekati Bella, namun Bella tidak mencoba mundur atau menghindar seperti yang sering gadis itu lakukan tiap kali ia mendekat padanya. Ia melangkah lagi. Tidak ada respon. Ia melangkah lagi, dan masih tetap tidak ada respon.

Ia melangkah lagi. Lebih mantap. Lalu berhenti setengah meter di hadapannya dan terus menatapnya. Pandangannya tidak pernah lepas dari Bella. Dan hal itu menyadarkannya. Well, Bella memang... cantik. Dan manis, sangat manis. Sedikit mengingatkannya pada Sung Shi Won, gadis di drama favorit Bella. Yeah, she is a sweetie. Dan dia merasa sangat bodoh karena pernah tidak mempercayainya, dan meninggalkan Bella-nya yang cantik begitu saja.

“Aku.. minta maaf.” Rio memulai. “Entah udah berapa kali aku minta maaf, dan aku yakin kamu juga capek berkali-kali harus denger kata-kata itu. Tapi, Bel, hampir 5 tahun. Aku cuma nggak mau terus-terusan dihantui masa lalu dengan nggak dapet kepastian that I am forgiven. Kamu.. tahu maksudku, kan?”
Bella hanya diam.

Come on, Bells..

Bella tetap diam. Lalu tiba-tiba ia menyerbu, memeluk Rio erat.

Rio bingung. Harus bagaimanakah ia?

Satu tangannya lalu meraih punggung Bella, membalas pelukannya. Sedang tangannya yang lain melingkar pada bola basket Bella.

I’m forgiven..?”

Let’s just say you are forgiven, Mario. Karena nggak semuanya salah kamu. But—“ Bella melepas pelukannya, lalu merebut bola basketnya dari tangan Rio.

Beat me, or you won’t be forgiven forever. Deal?

Rio menghela napasnya lega. Itu artinya ia dimaafkan. Benar-benar dimaafkan oleh Bella.

Let’s shoot some hoops, then?

Mereka benar-benar one-on-one. Pertandingan yang sedikit berisik, menilik hanya ada mereka berdua di lapangan itu.

Sambil men-dribble­, Rio menyeringai pada Bella. “Inget Bones?”

Bella mengangguk cepat. Mengerti siapa yang dimaksud. “Pastinya! Hodgins sama Angela, kan?”

“Kayak kita, ya,”

Giliran Bella yang menyeringai. “Beat me first, baru aku setuju.”

Lalu mereka bertanding lagi. Dan kali ini lebih banyak canda dan tawa yang mereka bagi pada atmosfer di lapangan basket penuh memori itu. Dan aura baru.

Penerimaan kembali perasaan dahulu kala yang sengaja dilupakan.

Dan semoga untuk seterusnya, kita masih terus bersama.

# # #

P.S. : This is one of my short stories for the literature project. There are another stories coming up after this one. Stay tune.

Regards,
Umi Sa'adah =]

Bad Blogger = Me

Well, it's 2013 now. I'm in the middle of chaos in my last year in high school. And I think I'm the only one who can still smile and so damn calm facing all this last year mess. Well, I only deal with money issue, which I will not talk about here.

Now, talking about the title. Bad blogger = Me. Yes, that is so right, folks, I'm a total loser is blogging. Excuse my lazy-ness. Dan, saya akan berpindah dari bahasanya Logan Lerman ke bahasa guru bahasa Indonesia saya.

Selain karena lupa saya punya blog, kesibukan sebagai pelajar *halah* yang membuat saya melupakan segalanya. Maklum, penyakit lupa saya tambah parah seiring bertambahnya materi pelajaran yang membuat saya pusing. Lagipula, try out dan ujian-ujian lainnya yang menunggu lebih butuh perhatian dari blog ini. Sori deh. Mungkin saya tidak bisa nge-blog sesering dulu, tapi kalau ada waktu, insyaallah nge-blog. Lagipula, di masa depan, saya juga bakal sering-sering buka blog. Nggak taulah buat apaan. Tapi dalam jangka waktu pendek ini, paling banter cuma buat nge-post cerpen tugas sastra atau berita penting seputar ujian saya. Nggak tau deh, bakal gimana jadinya.

Ada banyak hal yang mau saya tumapahin di blog hari ini. Kayak misalnya hobi saya yang tiba-tiba berubah jadi mirip fotografer. Kegilaan saya nonton NCIS dan Bones, sama film-film di tv kabel. Atau kegilaan saya sama Jacob Palmer a.k.a Ryan Gosling dan D'Artagnan. Atau kegilaan saya nungguin debut girlgroup barunya YGEnt. Ih, sumpah. Lama banget. Keburu bosen, keburu lulus ini nunggunya.

Kalo soal jadi fotografer, saya lebih suka fotoin temen-temen Bahasa 13 yang pada punya hobi difotoin. Dan yang pada punya muka unik yang cocok dimasukin Instagram. Maafkan saya yang gaptek, tapi saya bener-bener baru ngerti Instagram dan mulai make tahun ini. O ya, euphoria ac juga. Walaupun udah agak lama. Anehnya, ac nggak pernah disetel kurang dari 20 derajat celcius. Kalaupun iya, paling banter yang disetel cuma satu. Yang satunya dimatiin.

Well, sebenernya banyak yang mau diceritain, tapi saya pengen banget nonton Tintin.

Regards,
Umi Sa'adah =]

P.S. : Penting banget nggak sih postingan ini? Nggak banget, mbak, sumpah!!