Sabtu, 24 Maret 2012
And The Story Continues...
7 Kisses : Alexander
Alexander’s POV
“Nuna... Kenapa kau cemberut hari ini? Dingin sekali bila kau cemberut seperti itu...” Kenapa dia? Kenapa cemberut seperti itu?
“Sudahlah, Oppa. Berhentilah memanggilku nuna. Aku ini bahkan 2 tahun lebih muda darimu. Kenapa sih, kau memanggilku nuna?” Joeun membereskan buku-bukunya. Buru-buru ia meninggalkan ruang klub sulap. Dia ini kenapa sih?
“Joeun-ah, kau ini kenapa sih?” Ia terus berjalan. Tanpa sekalipun menjawab pertanyaanku. Apa aku sudah salah omong ya? Aduh... Bagaimana ini..?
“JOEUN-AH!”
Aku menarik tangannya. Saat ia akhirnya berhenti, aku bergegas menghadap dirinya. Wajahnya... Oh, tidak. Aku dalam masalah besar.
“Joeun-ah, kenapa kau menangis? Apakah karena aku?”
“...Kalau memang ini salahmu, lalu kau mau apa? Menciumku untuk menenangkanku?”
“Bukan seperti itu... Aku...”
“Sudahlah, Oppa. Lepaskan tanganku. Aku hanya ingin pulang.”
“Biarkan aku mengantarmu,”
“Tidak usah. Aku bisa sendiri,”
Tanganku melemas. Ia melepaskan tangannya dari genggamanku. Dan pergi begitu saja. Tuhan, apa salahku? Kenapa dia... Ah! Payah kau, Alexander! Kau kan sudah berjanji untuk tidak membuatnya menangis lagi setelah kejadian setahun lalu. Sekarang bagaimana ini? Apakah aku harus meminta bantuan yang lain? Lagi?
“Ah... benar-benar payah..”
Aku mengeluarkan ponselku. Men-dial nomor orang itu lagi. Aku yakin dia akan marah besar karena meneleponnya di jam-jam sibuk seperti ini.
“Ada apa?”
“Soohyunie? Kau masih hidup?”
“Jelas masih. Kenapa meneleponku malam-malam begini?”
“Aku ingin... meminta nasihat darimu. Bisakah kau menemuiku di Starbucks dekat rumahmu?”
“Jigeum?”
“Mm-hm. Maaf mengganggu, Soohyunie.”
“Tidak apa, hyung. Aku segera ke sana. Ngomong-ngomong, apakah ini tentang Joeun lagi?”
“Iya.” Aku berjalan menyusuri jalan menuju Starbucks yang kubilang tadi. Jaraknya hanya beberapa rumah dari rumah Soohyun dan rumahku. Kami terus berbicara lewat telepon. Hingga sampailah aku di tempat. Kulihat belum ada tanda-tanda Soohyun di sana. Kalaupun ada, seharusnya Minji, musuh bebuyutannya di klub vokal yang juga bekerja di sini, sudah ijin pulang bahkan sebelum Soohyun sampai.
Aku bergegas menuju tempat kami biasa duduk. Sambil terus berbicara dengan Soohyun lewat telepon.
“Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku bahkan tidak tahu apa yang sudah kuperbuat hingga ia marah dan menangis seperti itu.”
“Oh, jadi dia juga menangis, Hyung? Hebat. Dua kali kau membuatnya menangis. Harusnya ada perayaan untuk ini.”
“Tsk. Diam kau, Kepala Besar. Kau mau aku membongkar rahasiamu pada Minji, bahwa kau su—“
“HYUNG!! Andwae! Kalau kau berani membocorkan rahasia itu, awas saja kau!”
“Biar. Kan kau sendiri yang memintanya,”
“Dasar kau ini.”
“Sudah, lupakan. Kau ada di mana sih? Sudah 10 menit aku ngobrol denganmu tapi kau tidak datang-datang. Starbucks ini dengan rumahmu kan, hanya berjarak 4 menit berjalan kaki,”
“Aku sedang perjalanan. Sudah, aku tutup dulu teleponnya.”
Dan dia menutup teleponnya begitu saja sebelum aku sempat membalas perkataannya. Apa-apaan anak ini? Berani sekali dia melawanku.
Hampir 5 menit aku menunggu Soohyun, tiba-tiba lampu kedai kopi yang terkenal ini menjadi remang-remang. Hampir gelap, tapi tidak cukup gelap untuk mataku. Oke. Ini sungguh tidak lucu. Ada apa ini?
Belum sempat aku berdiri untuk bertanya pada pelayan, seseorang menutup mataku dari belakang menggunakan sepotong kain berwarna hitam. Ahh... Ayolah... Ini sungguh tidak lucu..
“Siapa kau? Ada apa ini? Kenapa kau menutup mataku seperti ini? Kau siapa?” Berbagai pertanyaan meluncur begitu saja dari mulutku. Si penutup mata yang sepertinya perempuan—aku sempat mendengar suara hak sepatunya—hanya mendecak. Hei, hei, hei. Aku sedang serius. Apa-apaan ini?
Tiba-tiba, orang itu menciumku. Spontan, aku mundur. Siapa dia berani menciumku seperti itu?? Kurang ajar sekali ia pada Alexander ini. Dengan jengkel, aku membuka ikatan kain yang menutup mataku. Aku melihat sesosok perempuan di depanku. Aku tidak tahu siapa dia karena lampu kedai yang remang-remang. Tapi, yang aku tahu, dia mulai mendekat padaku, dan mengatakan sesuatu yang membuatku tersadar siapa dia.
“Ssshh... Biarkan aku menikmatinya kali ini...”
Suara ini... Joeun? Park Joeun?
Aku hendak bertanya siapa dia, saat tiba-tiba ia menempelkan bibirnya lagi di bibirku. Oh, yeah.. Aku kenal bibir ini. Hanya Joeun yang pernah menciumku. Tapi, tunggu. Kenapa dia ada di sini?
“Aku yang membawanya. Dia curhat padaku tentang kau yang tidak bisa berhenti bicara sehingga ia ingin, untuk sekali saja, membuatmu diam. Dan Minji Yang Hebat ini dengan baiknya memberinya nasihat yang sekarang dia lakukan. Atau bisa kubilang Nona Sok Tahu?” Sebuah suara menjelaskan, seperti membaca pikiranku. Dan aku kenal baik suara sok itu. Shin Soohyun, kau akan mati di tanganku.
“Hei Soohyun Kepala Besar, diam saja kau. Aku ini memang hebat. Dibandingkan dengan kau yang hanya bisa membuat kepalamu lebih besar lagi,” Minji membalas. Hei, hei, ada apa ini? Kenapa mereka malah bertengkar. Joeun bahkan sampai terganggu mengingat ia tidak menciumku lagi.
“Apa kau bilang?”
“Yah.. kau mendengarku dengan cukup baik. Atau kau terkena gangguan pendengaran, Orang Tua?”
“Diam kau, Lidah Udang.”
“Kau yang diam, Orang Tua.”
“HEI! BISAKAH KALIAN BERDUA DIAM?! Kami sedang melakukan apa yang kalian usulkan padaku!”
Bentakan Joeun benar-benar membuatku tersentak kaget. Ini pertama kalinya aku melihat ia seperti ini. Wow.
“Sudahlah, Jojo. Lupakan mereka. Anggap saja mereka burung-burung yang tengah kasmaran. Bisakah aku mendapat ciumanku lagi?”
Joeun menelengkan kepalanya ke kiri, tanda bahwa ia bingung dan heran dengan apa yang kukatakan. Yeah, aku mengenalnya sebaik itu.
“Kenapa kau berpikiran bahwa aku akan menciummu lagi?”
“Aku tidak tahu. Mungkin itu lebih seperti hukuman bagiku karena sudah terlalu banyak bicara. Tapi kau tahu? Itu semua karena aku peduli padamu. Aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau itu sudah mengganggumu. Aku akan menguranginya. Demi kau.”
Tiba-tiba, wajahnya sudah sangat dekat setelah aku selesai mengatakan semua perasaanku. Dan,
“Kau memang terlalu banyak bicara,” Ia menciumku lagi.
Plak!
“Berhenti memandangiku seperti itu, Kepala Udang!”
Aku tersenyum dalam ciuman kami. Dua orang itu memang tidak akan pernah bisa akur.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
hehehe... i'm rushing. this is Mighty Alexander! hope you enjoy (if it's totally suck!) Jaaaa!!!
Salam,
Umi Sa'adah =]
7 Kisses : Kevin
Kevin’s POV
“Kevin! Kevin! Wait for me!” Eli-ya, berhentilah berbicara dengan bahasa Inggris. Dan berhentilah mengangguku. Malas, malas..
“Ada apa?” Eli terus bicara entah apa. Aku hanya mengangguk sok mengerti. Buku-bukuku lebih membutuhkan perhatian daripada cerocosan Eli yang sama sekali tidak masuk akal.
“... murid pindahan. Hyunmi. Kau ingat dia, ‘kan?”
Tunggu. Hyunmi? Nama itu... familiar. Jung Hyunmi? Dia sudah kembali? Seketika, aku menghentikan kegiatan menata buku-buku di lokerku.
“Hyunmi? Jung Hyunmi?”
“Molla. Soohyun hyung sepertinya tahu. Kau tanyakan saja padanya,”
“Lalu, kenapa kau berbicara seperti itu, seolah kau tahu segalanya?” Kututup lokerku pelan. Semalas apapun, aku tetap si angelic Kevin yang harus tahu manner. Aku tidak boleh membanting pintu lokerku. Kami berjalan menuju kafetaria, tidak terlalu jauh dari locker area.
“Aku tahu kau masih suka dengan Hyunmi, jadi aku berpikir kau pasti akan sangat senang kalau aku memberitahumu tentang kedatangannya hari ini. Aku tahu kau akan mengingatnya bahkan sebelum aku memeberitahumu.”
“Hari ini? Kau tahu dia masuk ke kelas apa?”
Eli memandangku aneh. Lalu tiba-tiba berubah menjadi curiga.
“Soohyun hyung lebih tahu tentang kedatangannya daripada aku. Kan sudah kubilang tadi. Ngomong-ngomong, kau tidak sedang merencanakan sesuatu yang aneh kan?”
Tiba-tiba kepalaku menjadi penuh dengan rencana-rencana. Entah apakah aku akan menggunakannya atau tidak, itu semua tergantung pada situasi dan kondisi. Kalau Eli tetap menempel padaku, aku yakin aku tidak akan bisa melaksanakan semua rencanaku. Eli itu terlalu pintar. Kau tahu, seperti... Sherlock Holmes. Kemampuannya meneliti sesuatu sangat menakutkan.
“Jangan berpikir macam-macam, Ikan. Aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu.” Apa kubilang. Belum apa-apa dia sudah mengancamku seperti itu.
“Aku sedang tidak bisa berpikir benar. Jadi, jangan khawatirkan aku, Burung Gendut.”
Akhirnya sampai juga di kafetaria. Kami langsung menuju meja yang biasanya kami bertujuh tempati. Di sana sudah ada Dongho, yang termuda diantara kami. Dia dari klub baseball. Lalu ada Kiseop dan Alexander hyung. Mereka berdua ikut klub sulap. Dan Soohyun hyung. Dia seniorku di klub vokal. Hei, di mana Kibum hyung?
“Hyung, di mana Kibum hyung?” tanyaku pada Soohyun hyung. Ia menelan burger yang tengah dikunyahnya sebelum ia menjawab.
“Dia sedang ada acara. Kau tahu si murid pindahan?” Murid pindahan? Hyunmi-kah?
“Entahlah. Eli bilang namanya Hyunmi. Kau tahu dia siapa, Hyung?”
“Jung Hyunmi. Mantanmu itu. Masa kau tidak tahu?”
Tuh, kan. Apa kubilang. Hmm... Apa yang harus kulakukan? Eh, tunggu. Kenapa aku harus repot memikirkan apa yang harus kulakukan? Aku kan bukan siapa-siapanya lagi. Kami bahkan jarang berkontak karena dia pindah ke California seminggu setelah kami putus.
“Kami jarang berhubungan lagi setelah putus. Kenapa dia kembali?”
Soohyun hyung sepertinya sedang malas. Salah satu kebiasaannya jika sedang malas diganggu kan, memakan makanan cepat saji di kafetaria. Dan memelototi setiap orang yang dirasa mengganggunya. Seperti yang dilakukannya padaku saat ini.
“Mana kutahu, Ikan. Aku ini bukan ayahnya. Makan sana! Kau ini makin kurus setelah putus dengan Hyunmi. Dan jangan ganggu aku.”
Aku mengangguk patuh. Aku bergegas menuju stand yang menjual roti manis. Ah... aku suka roti ini! Setelah membayar, aku buru-buru berbalik, ingin segera menyantap habis roti manis ini. Namun, ketika aku berbalik, kau tahu siapa yang ada di belakangku?
“Hyunmi?” Oh, tidak. Dia menangkap basah Kevin yang sedang membeli roti manis dengan raut bahagia! Gawat, gawat...
“Kau... masih suka roti itu?” Aku mengangguk lemas. Dari sudut mataku kulihat Kibum hyung, hyungku yang lain, 91 line yang lain, dan Dongho terkikik-kikik melihatku dicegat—tercegat—oleh mantan kekasihku. Ah... dasar. Teman macam apa mereka? Bantulah Kevin yang malang ini, teman-teman...
“Sebenarnya... aku tidak peduli. Tapi, kau benar-benar harus berhenti makan makanan manis seperti itu. Kau akan semakin kurus nanti.” Mworago?
“Kalau kau memang tidak peduli, kenapa kau mengkhawatirkanku? Atas dasar apa?”
Sumpah. Aku baru saja melihat pipinya memerah. Dan ia langsung memalingkan pandangannya dariku. Suatu hal yang akan dia lakukan bila ia sedang gugup. Dan malu.
“Memangnya tidak boleh? Sama saja seperti kau masih menyuikaiku setelah kita putus,”
“Tapi paling tidak aku jujur. Aku memang masih menyukaimu, Hyunmi-ya.”
Akhirnya, tersampaikan juga perasaanku padanya. Kau tahu? Rasanya seperti sedang menembaknya waktu pertama kali. Hatiku benar-benar berdebar, penasaran dengan apa yang akan dikatakannya. Tapi, tunggu dulu. Ada apa ini? Kenapa ia makin mendekat padaku? Apakah ini hanya perasaanku saja?
Belum sempat aku berpikir dengan benar, sepasang bibir menempel lembut di bibirku. Hangat, lembut, dan... sangat... tak terprediksi. Hyunmi menciumku??
“Aku juga masih menyukaimu. Aku bodoh sudah meninggalkanmu begitu saja. Berterimakasihlah pada Soohyun dan Kibum oppa. Kau—dan aku—berhutang banyak pada mereka.”
Wow. Sungguh... menakjubkan. Ini kali kedua kami berciuman. Yeah, yeah. Kami memang innocent. Seperti nickname-ku.
Eh, tunggu, tunggu.
Apa yang dikatakannya tadi?
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Salam,
Umi Sa'adah =]
Minggu, 05 Februari 2012
Semua Hanya... Mimpi?
Ngantuk. Satu-satunya yang gue rasain saat ini. Sebenernya, gue itu bukan tipe tukang begadang. Gue juga bukan tukang ronda, apalagi anak rajin yang ngerjain tugas sampe subuh. Jujur, gue bahkan paling males kalo disuruh ngerjain tugas. Denger tugasnya apaan aja kagak! Apa yang mau dikerjain coba? Gue itu tukang tidur profesional. Jadi gampang ngantuk dan oke-oke aja kalo ambruk di mana aja. Di toilet atau di sebelah tempat sampah SMA gue. Yang paling parah adalah gue pernah dan sempet tidur di tengah-tengah moshing pas PenSi tahun lalu, yang mengakibatkan kepala gue benjol dan berdarah-darah, tulang tangan gue remuk, dan kaki gue keseleo parah. Anehnya, gue nggak mati. Nah lho ?!
Tapi, bukan masalah tidur yang ngeganggu batin gue yang lemah ini. Mimpinya itu, lho! Gue punya pengalaman aneh. Walupun unik dan happy ending, gue jadi takut ngimpi lagi. Takut jadi kenyataan. Cukup sekali aja. Dan, tahu? Mimpi itu bener-bener ngerubah hidup gue.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
“Hoaaahhhmmm... Ren.. ngantuk... “ Waktu itu, gue, Karen, Wina, sama Jania lagi ngumpul di apartemen Karen di daerah metropolitan Seoul. Iya. Orangtua Karen emang kaya. Bapaknya presdir perusahaan perhotelan di Korsel dan di Kanada. Emaknya punya restoran dengan cabang-cabangnya tersebar di seluruh penjuru dunia. Dan apartemen itu punya Karen. Bukan punya orangtuanya. Bayangin sendiri seberapa kayanya Karen.
“Ya tidur sono! Repot amat jadi orang,” Jania, emang yang paling judes diantara kita berempat, cuma ngomong sekenanya tanpa sekalipun ngalihin pandangannya dari iPad kesayangannya, yang penuh foto-foto cowok dengan hot abs dan shirtless.
“Jangan gitu ah, Jan. Kamu tidur aja sana, Dan, kalo ngantuk.” Emang pantes kalo Wina dipanggil ‘Emak’. Bahasanya santun—kontras sama Jania yang demen banget nyablak sekenanya, penuh perhatian, dan leadership-nya tinggi banget! Ngalahin Junio, ketua OSIS SMA Larchennsval International.
“Iya deh. Apa kata lo aja, Na.” Tapi, bukannya masuk kamar, gue berpikir buat jalan-jalan dulu sebentar di jalanan kota metropolitan ini. Jarang-jarang bisa ke Korea dan ngehirup atmosfer di sini.
‘Nggak jauh beda sama Bandung,’ pikir gue. Cuma bedanya, kebanyakan orang sini pada jalan kaki. Dan banyak dari mereka terburu-buru. Kebiasa tepat waktu, sih. Yah, menurut apa yang gue baca di internet. Jadi gue nggak sepenuhnya ngerti.
Baru aja gue berpikir kalo Seoul gak jauh beda sama Bandung, satu bukti muncul. Ada Joni! Apa bukan ya??
FYI, Joni itu kembaran Junio. Bedanya, Joni orangnya bandel dan brengsek banget. Kalo Junio... ya.. bisa ditebaklah. Kalo dia jadi ketua OSIS, itu artinya dia beradab. Parahnya, gue naksir Joni! Oke, nggak sepenuhnya. Gue cuma demen sama dia karena dia mirip Kevin, salah satu member boyband Korsel, “U-Kiss”. Sisanya... Mungkin karena dia charming?
Tapi, tunggu sebentar! Ada kemungkinan dia bukan Joni. Ngapain pula Joni di Korsel? Kali aja itu bener-bener Kevin. Wow! Jackpot!
Pelan-pelan, gue hampirin orang-yang-mirip-kevin-atau-joni-terserah-mau-sebut-siapa yang keliatannya lagi sibuk sama ponsel-nya. Karena nggak berani nyapa, gue cukup lewat pelan-pelan di hadapannya.
Dan kalian tau dia siapa??? Joni!!! Kenapa gue bisa tau? Gue hapal banget parfum aroma musk-nya. OMAIGAT.
Sialnya, dia sadar gue lewat di depan dia. Dan dengan malesnya, gue nyaut aja waktu dia nyapa gue.
“Lho, Dan? Lo di sini juga toh? Kirain cuma anak-anak ekskul Korea sama OSIS aja,” Dengan santai dia nanya. Emang dia nggak liat gue yang udah keringat dingin begini ya? Gila. Ngapain sih, dia di sini? OSIS aja bukan.
“Gue kan ekskul Korea juga. Trus, lo ngapain di sini?” Aduh, demi apa!! Dia ngeluarin senyum khasnya yang bikin cewek-cewek di sekolah gue klepek-klepek. OMAIGAT kuadrat.
“Gue diajakin Junio. Farah nggak bisa ikut, jadi dia ngajak gue ke sini.” Farah, sekretaris di OSIS. Cewek dengan tulisan tangan mirip Edward Cullen, secepet apapun speed-nya.
“Oh.” Cuma dua alfabet itu yang keluar dari mulut gue. Payah lo, Danya!! Panjangan dikit kenapa ngomongnya!?
Sambil nahan hati gue yang ketar-ketir nggak keruan karena sekarang Joni ngajakin gue jalan di taman terdekat. OMAIGAT kubik.
“Jadi, lo gimana... sama Trisha?” tanya gue, takut-takut. Jujur, takut banget. Kata anak-anak di sekolah, Trisha adalah salah satu topik paling sensitif buat Joni. Dan topik ini berpotensi bikin Joni murka. Dan begonya gue, pake nanya-nanya soal Trisha! PAYAAHH!!!
Tapi, dengan santai, Joni ngejawab pertanyaan gue. Aneh.
“Gue masih sensitif, sih, kalo ngomongin soal si jalang sialan itu.” Nah lho, apa gue bilang. “Tapi Junio ngasih tau gue buat selalu sabar, apapun topiknya. Dia emang bener-bener kembaran yang ngertiin banget.”
Tunggu. Gue nggak salah denger, nih? Joni muji Junio? Jo-ni-mu-ji-Ju-ni-o? JONI MUJI JUNIO?
Dunia belum kiamat, kan?
“Tapi, ati-ati aja, Dan. Selera kita soal cewek bener-bener sama.” Tatapan mata yang menyertai tiap kata-katanya ngingetin gue sama kejadian sebulan lalu di selasar sekolah. Tatapan itu sama dengan tatapan Junio. Iya, bulan lalu dia juga ngingetin gue soal ini. Awalnya, gue pikir itu wajar. Toh, mereka juga kembar.
Tapi, setelah peristiwa yang terjadi setelah ini, bener-bener buka mata gue.
Sepersekian detik kemudian, dua belah bibir mendarat di bibir gue. Oke. What is happening here? Otak gue nggak bisa bekerja. Kalo pernah liat saluran ‘rahasia’, pasti ngerti maksud gue.
Belum sempet gue sadar, bibir itu menghilang. Baru beberapa menit kemudian gue sadar. Joni udah nggak ada di tempat. Ke mana tuh orang?? Ngilang gitu aja habis cium-cium orang seenaknya! Payah!
Mata gue nyelidik ke sana ke mari. Nggak ada satupun jejak yang ngasih tahu ke mana Joni pergi. Dan tiba-tiba, semua berubah. Semua jadi putih.
Oke, oke, oke. Gue bener-bener nggak ngerti apa yang sebenernya terjadi di sini. Gue nyoba buat cari tahu. Gue lari ke sana kemari. Tapi apa yang gue dapet? Nihil. Tempat ini kayak studio yang sering buat syuting video klip “Super Junior” atau kayak di video klipnya “Brown Eyed Girls” yang Abracadabra. Am I in some studio here in Seoul? Nggak mungkin banget.
Di mana gue!!??
Lalu, pelan-pelan, gue liat bayangan langit-langit berwarna hijau dan ada lampu yang menyala terang. Gusti, gue ada di mana lagi sih ini??
Dan kemudian, semua menjadi jelas. Gue ada di kamar gue sendiri di apartemen Karen. Oh my. JADI ITU SEMUA CUMA MIMPI!!?? Gue udah seneng ketemu Joni, dan ternyata itu semua cuma mimpi?? Hahaha. Ketawa gue. Dengan tawa paling sarkastis. Terima kasih.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Singkat cerita, gue mutusin buat jalan-jalan setelah kejadian mimpi gue yang naas itu. Dan kalian tahu? Di mana gue jalan, tempat-tempat apa aja yang gue lewatin, semua persis kayak yang ada di mimpi gue.
Bahkan cowok sialan yang ninggalin gue begitu aja di mimpi, muncul di tempat yang sama. Dan sedang mengutak-atik ponselnya. Dengan mengenakan pakaian yang persis sama. Dan saat gue lewat di depannya, pelan-pelan, parfum beraroma musk itu kembali tercium.
Uh-oh. Bahkan percakapan yang terjadi diantara kita berdua, setelah dia nyapa gue, sama persis dengan apa yang kejadian di mimpi! Gusti, kenapa, nih?
Kita jalan-jalan lagi. Iya, gue sama Joni. Iya, di taman yang sama. Dengan peringatan yang sama. Dan dia juga nyium gue.
Tapi, sebelum dia narik dirinya dari bibir gue yang menggoda ini, gue tahan dia di tempatnya. Jarak kita bahkan nggak ada satu senti. Dan dengan penuh keberanian, gue nanya,
“Gue mimpi kejadian yang persis sama dengan kejadian saat ini. Dan elo juga nyium gue dengan nggak etisnya kayak gini. Apa mau lo?”
Dia senyum.
Tapi, tunggu. Senyum itu.... bukan Joni. Gue hapal banget devil smile Joni. Dia bukan Joni. Dia... Junio... kah?
“Mimpi? Lo pikir, apa yang lo alami 15 menit yang lalu itu mimpi?”
Dan dia pergi gitu aja. Ninggalin gue yang terbengong-bengong bingung.
M.A.M.P.U.S.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
hai, hai. umi kembali. oke, gue belom mati.
jadi, cerita ini adalah pure khayalan semata. dan ini sebenernya tugas sastra indonesia gue. menurut guru gue, cerita ini udah lumayan. lega sih. tapi gue butuh saran lebih banyak biar gue bisa lebih baik lagi.
ini ngomong apa sih?
oke jadi gue ngepost ini sebagai tanda gue belom mati. and please enjoy this amateur world.
with kevin oppa from u-kiss as the background. y'all like that??
Salam,
Umi Sa'adah
Sabtu, 10 Desember 2011
S.T.U.P.I.D.
Senin, 05 Desember 2011
TIK dan The Confession
Digital Library

A digital library is a library in which collections are stored in digital formats (as opposed to print, microform, or other media) and accessible by computers. The digital content may be stored locally, or accessed remotely via computer networks. A digital library is a type ofinformation retrieval system.
In the context of the DELOS, a Network of Excellence on Digital Libraries, and DL.org, a Coordination Action on Digital Library Interoperability, Best Practices and Modelling Foundations, Digital Library researchers and practitioners produced a Digital Library Reference Model which defines a digital library as: "A potentially virtual organisation, that comprehensively collects, manages and preserves for the long depth of time rich digital content, and offers to its targeted user communities specialised functionality on that content, of defined quality and according to comprehensive codified policies."
Actually, this document contains a Digital Library Manifesto which introduces the three types of relevant ‘systems’, i.e. Digital Library, Digital Library System, and Digital Library Management System. It describes the main concepts characterising these systems, i.e., organisation, content, user, functionality, quality, policy and architecture. It introduces the main roles that actors may play within digital libraries, i.e., end-user, manager and software developer. Finally, it describes the reference frameworks needed to clarify the DL universe at different levels of abstraction, i.e., the Digital Library Reference Model and the Digital Library Reference Architecture.
The first use of the term digital library in print may have been in a 1988 report to the Corporation for National Research Initatives. The termdigital libraries was first popularized by the NSF/DARPA/NASA Digital Libraries Initiative in 1994. These draw heavily on As We May Think by Vannevar Bush in 1945, which set out a vision not in terms of technology, but user experience. The term virtual library was initially used interchangeably with digital library, but is now primarily used for libraries that are virtual in other senses (such as libraries which aggregate distributed content).
A distinction is often made between content that was created in a digital format, known as born digital, and information that has been converted from a physical medium, e.g., paper, by digitizing. The term hybrid library is sometimes used for libraries that have both physical collections and digital collections. For example, American Memory is a digital library within the Library of Congress. Some important digital libraries also serve as long term archives, for example, the Eprint arXiv, and the Internet Archive.